Dengan Segel Berbasis GPS, Daging Babi Hutan Palembang Berangkat ke Makassar

Palembang (23/08) – Maraknya peredaran daging babi hutan atau celeng sangat meresahkan masyarakat. Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah lalu lintasnya secara ilegal, salah satunya dengan pengawalan daging celeng berbasis GPS.

Sebanyak 13 ton daging babi hutan dan 2 ton jeroannya senilai Rp 371 juta yang berasal dari Kayu Agung, Sumatera Selatan dikirim ke Makassar melalui Pelabuhan Bakauheni, Lampung.

Sebelumnya, Kepala Seksi Karantina Hewan, Fitria Maria Ulfah, mendampingi dokter hewan karantina Catur Setiawan dan Ava Aviadini untuk melakukan pemeriksaan kelengkapan dokumen, organoleptik, dan pengujian laboratorium dengan metode angka lempeng total dan deteksi larva Trichinella sp., parasit pada daging.

Hasil pemeriksaan menunjukkan daging dan jeroan babi hutan layak untuk dikirim ke daerah tujuan. Produk hewan tersebut lalu dimuat dalam container reefer untuk menjaga kondisinya selama proses pengiriman. Segel berbasis GPS juga dipasang untuk mempermudah pengawasan dan mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Terakhir, berita acara serah terima media pembawa pun diterbitkan oleh Karantina Pertanian Palembang untuk selanjutnya dilakukan penerbitan Sertifikat Sanitasi Produk Hewan (KH-12) oleh petugas Karantina Pertanian Lampung.
Semua ini dilakukan sebagai bentuk komitmen Karantina Pertanian untuk menjaga peredaran lalu lintas daging celeng dan produknya secara ilegal. Diharapkan para pengepul daging celeng dapat bekerja sama dengan baik sehingga kasus pengiriman yang ilegal tidak terjadi lagi dan keresahan masyarakat akan menghilang.

Baca Juga :   Beri Nilai Tambah, Kementan Dorong Ekspor Santan Kelapa Sumsel

Menurut Fitria, ada dua pengepul daging babi hutan di Sumatera Selatan. Adapun pengiriman ke Makasar merupakan pengiriman perdana. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulawesi Selatan telah menerbitkan rekomendasi pemasukan, di mana tujuan pengiriman daging babi hutan ini untuk dikonsumsi, sedangkan pendistribusiannya akan ditelusuri oleh dinas pemerintah daerah yang berwenang.

Bambang Hesti S, kepala Karantina Pertanian Palembang menambahkan bahwa UPT yang dipimpinnya telah mengekspor daging babi hutan Vietnam pada bulan Mei lalu. Keinginan eksportir yang belum terlaksana adalah mengekspor daging babi hutan ini ke negara strategis seperti Tiongkok, Thailand, Singapura, dan Hongkong, “Kami akan terus membantu eksportir daging celeng agar dapat mengirim ke negara-negara tersebut,” ujar Bambang.

Nah, SobatQ, jadi tahu kan betapa pentingnya peranan Karantina Pertanian di Republik Indonesia. Dengan pengawalan ketat daging dan jeroan babi hutan, maka keresahan masyarakat akan akan hilang terhadap kemungkinan dioplosnya daging babi hutan dengan daging sapi.

Yuk, bantu sebarkan informasi ini sehingga banyak pengepul daging babi hutan akan sadar dengan aturan.

#LaporKarantina🐕🍎
#KarantinaPertanianPalembang

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*