Stop Lalu Lintas Ilegal Daging Celeng, Karantina Palembang Pacu Ekspor ke Vietnam

Palembang – Maraknya peredaran daging babi hutan atau celeng sangat meresahkan masyarakat. Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah lalu lintasnya secara ilegal. Selain operasi patuh karantina, Badan Karantina Pertanian melalui Karantina Pertanian Palembang kini mendorong ekspor jeroan babi hutan ke Negara Vietnam.

Sebanyak 8.000 kg jeroan babi hutan diekspor ke Negara Vietnam melalui Pelabuhan Boom Baru, Palembang. Setelah Veterinary Health Certificate diterbitkan Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner (Dirkesmavet) Kementerian Pertanian Republik Indonesia, selanjutnya petugas Karantina Pertanian Palembang melakukan pemeriksaan fisik dan pengujian laboratorium dengan metode total plate count yang menghitung cemaran mikroba. Terakhir, Sertifikat Sanitasi Produk Hewan (Sanitary Certificate of Animal Products) pun diterbitkan oleh Karantina Pertanian Palembang, beserta pernyataan bahwa jeroan babi hutan sehat dan layak dikonsumsi sehingga dapat berangkat ke negara Vietnam.

Nilai ekspor jeroan babi hutan ini mencapai 240 juta rupiah, lebih kecil dibandingkan ekspor pada tahun 2018 sebanyak 26.300 kg (satu kali pengiriman) dengan nilai 2 miliar 104 juta rupiah. Wow, nilai yang fantastis bukan?

Baca Juga :   Penerapan Blank Certificate di Karantina Pertanian Palembang

Chen Jianguang, eksportir daging babi hutan menjelaskan bahwa ia saat ini sedang mempelajari persyaratan untuk dapat mengekspor daging babi hutan ke Tiongkok. Menurut berbagai sumber, saat musim dingin permintaan daging babi hutan di Tiongkok sangat tinggi.

Kepala Karantina Pertanian Palembang, Bambang Hesti Susilo dan Kepala Seksi Karantina Hewan, Fitria Maria Ulfah yang datang langsung ke lokasi pengambilan sampel jeroan babi hutan di Kota Prabumulih, Sumatera Selatan sangat menyambut baik keinginan Chen Jianguang dari PT. TM dan mendorong eksportir babi hutan ini untuk dapat bekerja sama dengan pengumpul daging babi hutan di Sumatera terutama diwilayah Sumatera Selatan.

Jika para pengumpul tahu harga ekspor daging babi hutan bernilai tinggi, dengan harga saat ini Rp 80.000 per kg, maka mereka akan lebih memilih mengekspor daripada melalulintaskannya secara ilegal ke Pulau Jawa. Diharapkan nantinya semua daging babi hutan diekspor sehingga tidak ada lagi kasus-kasus peredaran daging babi hutan ilegal terutama saat menjelang Hari Raya Idulfitri. Eksportir daging babi hutan menyambut baik saran ini dan berusaha merealisasikannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*