Barantan Lepas 8 Ton Jeroan Babi Hutan Senilai Rp 240 Juta di Pelabuhan Boom Baru

PALEMBANG – Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan), melepas 8 ton jeroan babi hutan senilai Rp 240 Juta di Pelabuhan Boom Baru Palembang, Kamis (30/05/2019).

Kepala Karantina Pertanian Palembang, Bambang Hesti, didampingi Kepala Seksi Karantina Hewan,  drh. Fitria Maria Ulfah, menuturkan, pihaknya terus melakukan akselerasi ekspor guna mengatasi peredaran daging celeng. Pasalnya pasokan yang berlimpah dari beberapa wilayah Sumatera dan adanya peluang distribusi yang tinggi namun dengan cara ilegal di pulau Jawa.

“Celeng atau babi hutan merupakan hama dan diburu di beberapa wilayah pulau Sumatera ini biasanya diperdagangkan untuk konsumsi hewan di kebun binatang Ragunan dan untuk konsumsi masyarakat tertentu,” katanya.

Menurutnya, ada juga yang berupaya memperdagangkannya  secara ilegal baik berupa daging utuh ataupun dioplos sebagai olahan berupa sosis, bakso dan lainnya.

“Terlebih tanpa disertai surat  kesehatan hewan  dari Karantina Pertanian dan diedarkan secara ilegal inilah yang menjadi perhatian pemerintah, dalam hal ini Barantan karena dapat meresahkan masyarakat baik dari sisi kesehatan, keamanan pangan serta  kehalalannya,” bebernya.

Bambang berujar, upaya berupa operasi patuh karantina yang kerap digelar di beberapa lokasi rawan, koordinasi dengan pemerintah daerah melalui dinas terkait serta sosialisasi ke masyarakat.

“Upaya ini kini mulai menuai hasil, akses pasar untuk daging celeng yang telah terbuka lebar ke negara Vietnam terus dipacu,” imbuhnya.

“Ekspor daging celeng ke Vietnam dengan nilai ekonomi yang cukup menjanjikan ini harapannya bisa menjadi solusi peredaran daging celeng secara ilegal,” tambahnya.

Baca Juga :   Dengan Segel Berbasis GPS, Daging Babi Hutan Palembang Berangkat ke Makassar

Bambang memaparkan, sebagai persyaratan ekspor negara tujuan, pihaknya melakukan tindakan karantina. Setelah dipastikan komoditas ini memiliki Veterinary Health Certificate dari Kesmavet, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan,  Kementerian Pertanian.

“Adapun tindakan yang dilakukan oleh medik dan paramedik Karantina Pertanian Palembang adalah pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium pengujian berupa total plate count yang menghitung cemaran mikroba,” sebutnya.

“Setelah semua dipastikan lolos, kami menerbitkan Health Certificate (HC) sebagai persyaratan ekspornya,” tambahnya.

Sementara itu,   PT. TM pemilik komoditas ekspor, Chen Jianguang, mengapresiasi percepatan layanan karantina, dan ia berharap untuk dapat menggalang pengumpul daging celeng di Sumatera terutama di wilayah Sumatera Selatan mengingat permintaan yang tinggi di Vietnam.

Chen juga menyampaikan adanya permintaan di pasar Tiongkok dan berharap kedepan Barantan dapat turut memfasilitasinya terhadap persyaratan dan protokol karantinanya.

Berdasarkan data lalulintas di Karantina Pertanian Palembang, tercatat ekspor daging celeng tahun 2018 dengan tujuan Vietnam sebanyak 26,3 ton senilai Rp 2 Miliar.

“Peluang ekspor daging celeng ke  negara dengan masyarakat tertentu ini cukup terbuka lebar. Perlu kerjasama semua pihak agar permasalahan peredaran daging celeng dapat teratasi, bahkan bisa menjadi nilai tambah dengan pasar ekspor bagi pengepulnya,” tandasnya.

Sumber : INTENS NEWS

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*